Mancung64’s Weblog

Membawa Cerita, “Cinta,” Budaya dan Mestika dari Bumi Persada

Arsip untuk Renungan

Kangen Ngeblog

Lama sekali rasanya saya tidak produktif menulis diblog saya ini, seperti terlupakan. Padahal, sejatinya saya tidak pernah melupakan Mancung 64, blog awal yang saya buat, tempat saya belajar mengekspresikan diri, menyuarakan apa yang ada dalam dalam pikiran, meskipun tanpa kata-kata (verbal). Hari ini saya tiba-tiba saja ingin menulis lagi di Mancung 64, semoga ini bisa ajeg. Semoga di tahun 2016 ini, saya bisa eksis lagi didunia blog setelah vakum untuk beberapa waktu. Kangen dengan sahabat-sahabat dunia maya saya yang dulu sering saling sapa dalam komentar postingan, apa kabar semua?

 

 

Iklan

Pemuda dan Kyai

Ada seorang pemuda yang lama menjalani pendidikan di luar negeri namun tidak pernah belajar agama Islam, kini kembali ke tanah air. Sesampainya di rumah ia diminta kedua orangtuanya untuk belajar agama Islam, namun ia memberi syarat agar dicarikan guru agama yang bisa menjawab 3 pertanyaan yang selama ini mengganjal dihatinya. Akhirnya orang tua pemuda itu mendapatkan orang tersebut, seorang kyai dari pinggiran kota.

Pemuda : ”Anda siapa dan apakah bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan saya?”
Kyai        : ”Saya hamba Allah dan dengan izin-Nya saya akan menjawab pertanyaan anda.”
Pemuda : ”Anda yakin? Sedangkan Profesor di Amerika dan banyak orang yang pintar tidak mampu menjawab pertanyaan saya.”
Kyai        : ”Saya akan mencoba sejauh kemampuan saya.”

Pemuda : ”Saya ada 3 pertanyaan:
1. Kalau memang Tuhan itu ada, tunjukkan wujud Tuhan kepada saya !
2. Kalau memang benar ada takdir, tunjukkan takdir itu pada saya !
3. Kalau syaitan diciptakan dari api kenapa dimasukan ke neraka yang dibuat dari api, tentu tidak menyakitkan buat syaitan. Sebab mereka memiliki unsur yang sama. Apakah Tuhan tidak pernah berfikir sejauh itu?”

Tiba-tiba kyai tersebut menampar pipi pemuda tadi dengan keras.
Pemuda : (sambil menahan sakit) ”Hei ! Kenapa anda marah kepada saya?”
Kyai        : ”Saya tidak marah… Tamparan itu adalah jawaban saya atas 3 pertanyaan yang anda ajukan kepada saya.”
Pemuda : ”Saya sungguh-sungguh tidak mengerti.”
Kyai        : ”Bagaimana rasanya tamparan saya?”
Pemuda : ”Tentu saja saya merasakan sakit.”
Kyai        : ”Jadi anda percaya bahwa sakit itu ada?”
Pemuda : ”Ya!”
Kyai        : ”Tunjukan pada saya wujud sakit itu!”
Pemuda : ”Saya tidak bisa.”
Kyai        : ”Itulah jawaban pertanyaan pertama…kita semua merasakan kewujudan Tuhan tanpa mampu melihat wujudnya.”

Kyai         : ”Apakah tadi malam anda bermimpi akan ditampar oleh saya?”
Pemuda : ”Tidak.
Kyai        : ”Apakah pernah terfikir oleh anda akan menerima tamparan dari saya hari ini?”
Pemuda : ”Tidak.”
Kyai        : ”Itulah yang dinamakan takdir.”

Kiyai       : ”Terbuat dari apa tangan yang saya gunakan untuk menampar anda?”
Pemuda : “Kulit.”
Kyai        : “Terbuat dari apa pipi anda?”
Pemuda : “Kulit.”
Kyai        : “Bagaimana rasanya tamparan saya?”
Pemuda : “Sakit.”
Kyai        : “Walaupun syaitan dijadikan dari api dan neraka juga terbuat dari api,  jika Tuhan menghendaki maka neraka akan menjadi tempat yang menyakitkan untuk syaitan. Semoga kita bukan termasuk orang-orang yang ditempatkan bersama syaitan di neraka..”

Pemuda itu langsung tertunduk dan memeluk kyai tersebut sambil memohonnya untuk mengajarkan Islam lebih banyak lagi.

sumber : sahabat amira.net

Hati-hati, Lem Label Produk Makanan Beracun

Bila Anda suka berbelanja bulanan untuk keperluan rumah tangga di supermarket sebaiknya mulai waspada, karena peneliti dari Universitas Zaragoza, Madrid, Spanyol, menemukan label nama dan harga pada bungkus produk makanan segar mengandung racun kimia yang berbahaya bagi kesehatan.

Hasil penelitian yang diterbitkan jurnal Royal Society of Chemistry asal Inggris, Senin (24/5) menyebutkan, lem label nama produk dan harga setidaknya mengandung empat senyawa kimia beracun seperti merkuri, asbes dan asam klorida. Racun tersebut mampu menembus bungkus kemasan plastik maupun kertas, sehingga makanan di dalamnya terkontaminasi racun yang dapat menyebabkan kegagalan organ hingga kematian.

Para peneliti juga menemukan empat bahan perekat akrilik berbeda yang biasa digunakan pada label makanan, dan memeriksa secara detil 11 senyawa yang ditemukan di Adhesive atau perekat. Hasilnya, sepuluh senyawa mengandung toksitas rendah namun sisa senyawa racun lain seperti tetramethyldec, yne dan diol melebihi ambang batas dan sangat berbahaya.

Ahli teknologi makanan dari Perancis, Valerie Guillard mendukung hasil penelitian itu dan mengkhawatirkan keselamatan konsumen makanan. “Penelitian itu membuktikan bahwa campuran bahan perekat pada label bungkus produk makanan itu memang bisa merembes ke dalam, pada tingkat yang bisa membahayakan keamanan konsumen,” ujar Guillard.

Sebaliknya Badan Pengawas Makanan Inggris, The Food Standard Agency mengatakan, hasil penemuan peneliti Spanyol memerlukan penelitian lebih lanjut, dan menganggap potensi rembesan atau migrasi zat kimia ke dalam makanan masih sangat rendah berdasarkan penelitian mereka sebelumnya.

Selama ini Uni Eropa memang memberlakukan peraturan ketat pada penggunaan bahan yang bersentuhan langsung dengan makanan, namun belum pada tingkat pengawasan pemakaian bahan lem yang digunakan pada label makanan.(Addy Hasan)

Sumber :Liputan6.com

Ingin Kaya? Jadi Pengemis di Bangka Belitung

Penghasilan pengemis di Kota Pangkalpinang, Bangka Belitung bisa mencapai Rp200 ribu hingga Rp300 ribu per hari. “Dengan penghasilan per hari sebesar itu, dalam sebulan mereka bisa mengatongi uang Rp4 juta hingga Rp5 juta,” kata Kepala Bidang Pemberdayaan dan Rehabilitas Sosial Dinas Sosial dan Tenaga Kerja (Dinsosnaker) Kota Pangkalpinang Baharrudin, di Pangkalpinang, Sabtu (12/6).

Menurutnya, pengemis di Kota Pangkalpinang umumnya dari luar Provinsi Bangka Belitung (Babel). Ia mengatakan untuk menekan jumlah pengemis di kota ini, pihaknya telah melakukan berbagai upaya, namun sampai sekarang belum membuahkan hasil yang signifikan dan belum mengubah keadaan.

Menurutnya, pada 2010 Dinsosnaker Kota Pangkalpinang menganggarkan Rp100 juta untuk merazia gelandangan dan pengemis di kota ini. “Kami memberikan arahan terhadap mereka yang berhasil kami jaring, dan selanjutnya kami pulangkan mereka ke daerah asalnya,” katanya. Namun, upaya tersebut selalu gagal. Mereka kembali lagi menjadi gelandangan dan pengemis di perkotaan. Oleh karena itu, pihaknya akan terus mengimbau masyarakat untuk tidak lagi membiasakan diri memberi sedekah kepada pengemis di jalanan, karena dengan tidak memberi sedekah kepada mereka, dengan sendirinya mereka tidak akan mengemis. “Kami meminta warga untuk tidak memanjakan para pengemis, dengan tidak memberi sedekah kepada mereka,” katanya. Menurutnya, kebiasaan masyarakat memberi sedekah kepada pengemis berdampak negatif, yakni jumlah mereka terus bertambah.

Beberapa waktu yang lalu, pada saat razia pengemis, aparat menemukan HP merk canggih dan uang tunai 2 juta rupiah didalam tas pengemis tersebut. Bagaimana menurut anda? kita yang memberi recehan pada mereka dengan pandangan iba, ternyata  lebih kere dari pengemis. Lebih baik kita menyalurkan sedekah pada yang lebih berhak. Anak yatim di panti asuhan lebih tepat untuk menerima sedekah kita.

Sumber :TV ONE dan Bangka Pos

Barangkali Kitalah Penyebabnya.

(Sebuah renungan, oleh : ust. Muhammad Fauzil Adhim)

Menjelang tengah malam, seorang ikhwan mengirim SMS kepada saya. Dia seorang aktivis yang amat banyak menghabiskan waktunya untuk menyebarkan kebaikan. Bila berbicara dengannya, kesan yang tampak adalah semangat yang besar di dadannya untuk melakukan perbaikan. Kalau saat ini yang mampu dilakukan masih amat kecil, tak apa-apa. Sebab perubahan yang besar tak ‘kan terjadi bila kita tidak mau memulai dari yang
kecil.Tetapi kali ini, ia berkirim SMS bukan untuk berbagi semangat. Ia kirimkan SMS karena ingin meringankan beban yang hampir ada kerinduan yang semakin berambah untukmemiliki pendamping yang dapat menyayanginya sepenuh hati.

SMS ini mengingatkan saya pada beberapa kasus lainnya. Usia sudah melewati tigapuluh, tetapi belum juga ada tempat untuk menambatkan rindu. Seorang pria usiasekitar 40 tahun, memiliki karier yang cukup sukses, merasakan betapa sepinya hiduptanpa istri. Ingin menikah, tapi takut ! tak bisa mempergauli istrinya dengan baik. Sementara terus melajang merupakan siksaan yang nyaris tak dapat ditahan. Dulu ia ingin menikah, ketika kariernya belum seberapa. Tetapi niat itu dipendam dalam-dalam karena merasa belum mapan. Ia harus mengumpulkan dulu uang yang cukup banyak agar bisa menyenangkan istri. Ia lupa bahwa kebahagiaan itu letaknya pada jiwa yanglapang, hati yang tulus, niat yang bersih dan penerimaan yang hangat. Ia juga lupa
bahwa jika ingin mendapatkan istri yang bersahaja dan menerima apa adanya, jalannya adalah dengan menata hati, memantapkan tujuan dan meluruskan niat. Bila engkau ingin mendapatkan suami yang bisa menjaga pandangan, tak bisa engkau meraihnya dengan,”Hai, cowok… Godain kita, dong. ”

Saya teringat dengan sabda Nabi Saw. (tapi ini bukan tentang nikah). Beliau berkata,”Ruh itu seperti pasukan tentara yang berbaris.” Bila bertemu dengan yang serupa dengannya, ia akan mudah mengenali, mudah juga bergabung dan bersatu. Ia tak bisa mendapatkan pendamping yang mencintaimu dengan sederhana, sementara engkau jadikan gemerlap kemapananmu sebagai pemikatnya? Bagaimana mungkin engkau jadikan gemerlap kemapananmu sebagai pemikatnya? Bagaimana mungkin engkau mendapatkan suami yang
menerimamu sepenuh hati dan tidak ada cinta di hatinya kecuali kepadamu; sementara engkau berusaha meraihnya dengan menawarkan kencan sebelum terikat oleh pernikahan? Bagaimana mungkin engkau mendapatkan lelaki yang terjaga bila engkau mendekatinya dengan menggoda?

Di luar soal cara, kesulitan yang kita hadapi saat ingin meraih pernikahan yang diridhai tak jarang karena kita sendiri mempersulitnya. Suatu saat seorang perempuan memerlukan perhatian dan kasih-sayang seorang suami, ia tidak mendapatkannya. Di saat ia merindukan hadirnya seorang anak yang ia kandung sendiridengan rahimnya, tak ada suami yang menghampirinya. Padahal kecantikan telah ia miliki. Apalagi dengan penampilannya yang enak dipandang. Begitupun uang, tak ada lagi kekhawatiran pada dirinya. Jabatannya yang cukup mapan di perusahaan memungkinkan ia untuk membeli apa saja, kecuali kasih-sayang suami.

Kesempatan bukan tak pernah datang. Dulu, sudah beberapa kali ada yang mau serius dengannya, tetapi demi karir yang diimpikan, ia menolak semua ajakan serius. Kalau kemudian ada hubungan perasaan dengan seseorang, itu sebatas pacaran. Tak lebih. Sampai karier yang diimpikan tercapai; sampai ia tiba-tiba tersadar bahwa usianya sudah tidak terlalu muda lagi; sampai ia merasakan sepinya hidup tanpa suami, sementara orang-orang yang dulu bermaksud serius dengannya, sudah sibuk mengurusi anak-anak mereka. Sekarang, ketika kesadaran itu ada, mencari orang yang mau serius dengannya sangat sulit. Sama sulitnya menaklukkan hatinya ketika ia muda dulu. Baca entri selengkapnya »

Kecerdasan Spiritual Menentukan Jati Diri

Sudah tertanam dalam anggapan umum masyarakat, anak yang nilai matematikanya kurang bagus dikelompokkan sebagai anak bodoh. Wajar jika sebagian besar orang tua cemas bila anaknya kurang pandai matematika.
Padahal kecerdasan tidak hanya terbatas pada intelektual, dikenal juga kecerdasan emosional (emotional intelligence) dan kecerdasan spiritual (spiritual intelligence).
Jika kecerdasan emosional memang membuat orang lebih mudah mencapai sukses dalam hidup. Tapi, untuk menemukan kebahagiaan dan makna dari kehidupan, diperlukan kecerdasan spiritual.

Kecerdasan spiritual diyakini sebagai kecerdasan yang paling utama dibandingkan dengan berbagai jenis kecerdasan yang lain. Kata spiritual memiliki akar kata spirit yang berarti roh. Kata ini berasal dari bahasa Latin, spiritus, yang berarti napas. Baca entri selengkapnya »

Benarkah Cinta dan Benci Berbeda Tipis?

Benci…benci…benci….namun rindu jua, mengingat wajah dan senyummu sayang. Ingat bait-bait syair lagu ini ? Lagu yang pernah top di era 80-an. Ternyata mungkin penulis syair tersebut sudah membuktikan bahwa anatara benci dan cinta itu ibarat seutas benang. Sangat tipis bedanya.   Kadang kita tidak percaya dengan nasehat orang tua, bahwa kalau benci

Jangan sepelekan wejangan yang menyebutkan bahwa rasa benci dapat berubah menjadi cinta. Karena tampaknya hal itu benar adanya. Sebuah penelitian dapat menjelaskannya.
Rasa benci yang teramat sangat biasanya berubah menjadi rasa cinta. Hal itu sudah sering kita dengar sebelumnya. Tapi tahukah Anda bahwa hal tersebut bisa dibuktikan secara ilmiah?

Professor Semir Zeki dari Universitas London melakukan penelitian dengan melihat gelombang otak seseorang. Sebanyak 17 orang laki-laki dan perempuan menjadi obyek dalam penelitian tersebut. Mereka diperlihatkan foto-foto orang-orang yang mereka cintai, benci dan yang sifatnya netral.
Saat diteliti lebih jauh, area otak yang bekerja saat seseorang merasa cinta atau benci berdekatan. Gelombang otak saat seseorang merasa benci dan cinta pun hampir sama.
Di area otak yang bekerja saat seseorang merasa benci dan seseorang merasa cinta hanya dibatasi dengan garis tipis. Hanya saja, area yang dimiliki rasa cinta lebih besar.

Jadi hati-hati mengartikan perasaan Anda. Karena antara cinta dan benci batasnya tipis! (sumber :detikhot)