Mancung64’s Weblog

Membawa Cerita, “Cinta,” Budaya dan Mestika dari Bumi Persada

Arsip untuk Mancung

Pesona Malam Tujuh Likur

likur 2Apabila anda memperhatikan gambar disebelah saya yakin anda tidak akan menyangka kalau titik- titik kuning diphoto ini, adalah titik- titik api yang terbuat dari lampu sentir tradisional yang terbuat dari botol bekas minuman energi, sumbu kompor dan minyak tanah. Setiap satu titik api berasal dari satu botol. Jadi anda tentu bisa membayangkan berapa banyak botol yang diperlukan untuk setiap satu gapura api ini.
Selain keindahan yang terlihat, yang patut untuk kita tiru adalah semangat kegotong-royongan dalam proses pembuatan gapura ini mulai dari mengumpulkan botol bekas, membuat lampu tersebut, kreatifitas peserta, serta kerja sama dan kekompakan dalam team. Karena gapura api likur ini dibuat per RT . Gapura api ini akan anda saksikan setiap malam 7 likur di Mancung. Gambar diatas saya ambil pada malam 7 likur tahun 2008 yang lalu. Baca entri selengkapnya »

Iklan

Suku Lom (Mapur), Pemegang Kemurnian Tradisi di Tengah Hutan Bangka

“Hati-hati masuk ke daerah suku Lom. Niat hati harus bersih dan tulus. Kalau hati kotor, nanti bisa kena celaka, bisa-bisa malah tidak bisa keluar lagi.” Demikian pesan banyak orang kepada siapa pun yang akan mengunjungi suku Lom.

Suku Lom merupakan suku unik yang tinggal di Dusun Air Abik dan Dusun Pejam, Desa Gunung Muda, Kecamatan Belinyu, Kabupaten Bangka, Kepulauan Bangka Belitung. Mereka juga sering disebut sebagai suku Mapur karena mula-mula sebagian besar tinggal di Dusun Mapur. Suku tersebut dikenal sebagai salah satu komunitas yang masih kuat memegang kemurnian tradisi di tengah perubahan zaman.

Sebenarnya kawasan adat suku Lom hanya berjarak sekitar 13 kilometer dari kota Kecamatan Belinyu. Motor dan mobil masih bisa masuk ke daerah itu saat tidak turun hujan, meski harus menelusuri jalan menuju tanah di tengah hutan Gunung Muda dan Gunung Pelawan yang rusak dan berlubang-lubang.

Kemurnian tradisi suku Lom selama ini dibumbui berbagai mitos, misteri, atau legenda yang menakutkan sehingga sebagian masyarakat enggan menyinggahi kawasan itu.

Memasuki perkampungan suku Lom di Dusun Air Abik, tak ubahnya melihat perkampungan warga biasa di daerah lain. Rumah-rumah kampung berjajar rapi di kiri-kanan jalan. Sebagian bangunan rumah sudah permanen, semipermanen, dan sebagian lagi masih berupa rumah kayu sederhana dengan atap genting. Bahkan beberapa rumah dilengkapi parabola. Ada juga beberapa mobil dan sepeda motor.

Keunikan suku itu mulai terasa ketika mereka ditanya tentang agama. Kolom agama kartu tanda penduduk (KTP) pada sebagian suku itu dibiarkan kosong, sebagian ditulis ’agama Islam’ sekadar untuk formalitas.

“Saya tidak punya agama. Tetapi, saya menghargai orang lain yang beragama. Yang penting saya hidup baik-baik, bisa makan dan minum setiap hari, serta tidak menyakiti orang lain,” ucap Sli (42), warga suku Lom yang tinggal sendirian di daerah agak pedalaman.

Sebutan lom pada suku tersebut merujuk komunitas yang “belum” memeluk suatu agama.(Red-dalam bhs Bangka, lom artinya belum) Menurut sejumlah warga, sebutan itu mulai muncul sejak zaman kolonial Belanda yang berusaha mengidentifikasi penduduk berdasarkan agama yang dianut. Hingga sekarang, anggota suku yang masih memeluk adat disebut “Lom”, sedangkan yang telah memeluk agama formal tertentu berarti telah menjadi “bukan Lom”.

Kepala Dusun Air Abik, Tagtui, menjelaskan, dari 139 keluarga yang tercatat, sebanyak 62 orang tertulis beragama Islam, 13 Kristen, dan dua orang Buddha. Sebanyak 62 orang lagi memeluk kepercayaan adat atau masih murni “Lom”. Namun, sebagian besar warga yang secara formal telah memeluk agama juga masih memercayai adat yang dipatuhi sejak nenek moyang.

“Sejak kecil saya tidak punya agama. Saya masuk Islam ketika menikah dengan istri yang Muslim tahun 1997. Tetapi, saya masih memercayai hukum-hukum adat sampai sekarang,” papar Tagtui.

Menurut penuturan tetua adat setempat, Mang Sikat (62), adat suku Lom dibangun dari keyakinan bahwa mereka dilahirkan dari alam semesta. Gunung, hutan, sungai, bumi, langit, dan hewan merupakan bagian dari alam semesta yang menyatu dengan nenek moyang sehingga harus dihargai. Dalam setiap perwujudan alam terdapat roh atau kekuatan yang selalu menjaga dan mengawasi manusia. Kutukan akan menimpa siapa pun yang melanggar kekuatan alam.

Keyakinan akan kutukan itu diperkuat oleh mantra-mantra yang digunakan untuk setiap tindakan yang dimuati tujuan khusus. Ada mantra untuk jirat, yaitu semacam doa untuk menjaga ladang dari pencurian. Ada mantra untuk menghipnotis orang agar mengakui kejahatan yang dilakukan. Juga ada semacam gendam untuk menarik minat lawan jenis sehingga jatuh cinta atau untuk menjaga kelanggengan pernikahan.

Berbagai mantra itu terutama dikuasai para dukun adat demi menjaga keamanan dari serangan luar, melestarikan tatanan sosial, sekaligus menempa kepercayaan diri setiap anggota suku. Meski digunakan dengan hati-hati untuk keperluan khusus, keampuhan mantra suku Lom acap jadi gunjingan khalayak luas sehingga masyarakat cenderung berhati-hati terhadap kekuatan magis suku itu.

Keyakinan itu melahirkan adat unik yang sebagian masih ditaati suku Lom hingga kini. Mayat anggota suku yang meninggal, misalnya, tidak boleh diantar ke kubur melalui pintu depan karena dia pergi untuk selamanya dan tidak kembali lagi. Mayat dibawa lewat pintu belakang, atau bila perlu menjebol dinding samping.

Adat lain, wanita hamil dilarang duduk di tangga rumah karena tangga menjadi perlintasan roh-roh. Roh-roh itu bisa masuk dalam kandungan sehingga menghambat proses kelahiran. Bersiul di ladang juga dihindari karena akan mengusir roh kehidupan yang memasuki tanaman yang baru tumbuh, akibatnya bisa gagal panen.

Keterasingan menciptakan bahasa Lom yang unik. Kata- kata diucapkan dalam percakapan yang cepat dan penuh intonasi. Suku Lom menyebut ika untuk mereka, nampik untuk dekat, nen berarti ini, bu untuk nasi, dan maken air berarti minum. Bahasa itu berbeda dengan bahasa Melayu atau China yang terdapat di lingkungan di sekitar suku Lom.

Hingg saat ini, suku Lom masih berusaha menjaga keyakinan adat. Para orang tua umumnya membebaskan anak untuk bersekolah, tetapi anak- anak biasanya tidak pernah menamatkan sekolah dasar. SD Negeri 24 di Dusun Air Abik yang berada di pinggir dusun hanya diikuti 48 siswa. Itu pun sebagian berasal dari lingkungan di luar suku.

Menurut Kepala Sekolah SDN 24 Dusun Air Abik, M Bundiar, jumlah anak yang masuk sekolah bisa mencapai puluhan siswa. Tetapi, anak-anak suku Lom rata-rata berhenti sekolah saat menginjak kelas II, III, atau IV.

“Kesadaran terhadap pendidikan pada suku Lom masih sangat rendah. Banyak yang tidak sekolah. Kalau sudah masuk, ada saja anak yang putus sekolah setiap bulannya. Kadang ada yang minta izin bekerja membantu orangtua di hutan dan tidak pernah masuk lagi, atau tiba-tiba hilang begitu saja,” tuturnya.

Beberapa warga suku Lom menganggap pendidikan hanya akan mengajarkan tabiat dunia luar yang dipenuhi kebohongan dan nafsu mengejar materi. Yudi (32), salah satu warga, mengaku tidak pernah sekolah sehingga tidak bisa membaca dan menulis. “Saya selalu ke ladang untuk memelihara 100 batang lada putih, buah-buahan, dan tanaman lain. Saya hanya butuh hidup dengan bahagia bersama warga di sini,” ujarnya.

Suku Lom cenderung menghindari budaya asing yang bertentangan dengan tradisi. Puluhan tahun lalu adat masih melarang anggota suku untuk menggunakan sandal, jas, jaket, atau payung karena dianggap menyamai gaya dan perilaku para penjajah. Sekarang ikatan itu mulai mengendur seiring dengan perkembangan zaman, tetapi sikap kritis terhadap dunia luar masih tetap dipelihara. Dalam sejarahnya, belum pernah ada anggota suku yang tersangkut atau dipenjara karena melakukan tindakan kriminal. Suku Lom yang asli sering diibaratkan sebagai bayi yang baru lahir; masih murni dan polos.

Sumber: AMCA

Giri Sasana Menumbing, Tempat Pengasingan Bung Karno-Hatta di Bangka, Kini Terasingkan.

gn-menumbingKompleks Giri Sasana Menumbing, di Muntok Kabupaten Bangka Barat tempat diasingkannya Presiden Soekarno dan kawan-kawan, seperti tinggal nama. Aset sejarah itu terkesan dibiarkan dan diasingkan.Selain Bung Karno, sejumlah tokoh nasional juga pernah diasingkan di bangunan yang terletak di pucuk Gunung Menumbing ini. Sebut, misalnya, Wakil Presiden Mohammad Hatta, Sekretaris Negara Pringgodigdo, Menteri Luar Negeri Agus Salim, Menteri Pengajaran Ali Sastroamidjojo, Ketua Badan KNIP Mr Assaat,Wakil Perdana Menteri Mr Moh Roem dan Kepala Staf Angkatan Udara Komodor Udara S Suryadarma.

Berdasarkan informasi tertulis yang dipajang di ruang 102, Soekarno dan kawan-kawan dibawa ke tempat ini dibagi menjadi tiga kelompok atau rombongan.Rombongan pertama adalah Mohammad Hatta, Mr A.G. Pringgodigdo, Mr. Assaat, dan Komodor Udara S Suryadarma. Mereka datang ke tempat ini tanggal 22 Desember 1948 dari Yogyakarta. Rombongan kedua adalah Mr. Moh Roem dan Mr. Ali Sastroamidjojo, yang dibawa lansung oleh Belanda dari Yogyakarta ke Manumbing pada tanggal 31 Desember 1948 dan rombongan ketiga adalah Bung karno dan Agus Salim didatangkan ke Bangka pada tanggal 6 februari 1949 dari tempat pengasingannya Kota Prapat, Sumatera Utara yang berdekatan dengan Danau Toba. Mereka datang dengan pesawat Catalina yang mendarat di Muara Sungai Pangkalbalam. Soekarno dan H. Agus Salim ini dipindahkan ke Bangka atas permintaan Presiden Soekarno agar mudah konsultasi dengan Moh. Hatta, atas permintaan Soekarno juga rombongan dibagi 2 yaitu menginap di Menumbing dan Wisma Ranggam Baca entri selengkapnya »

Film Sang Pemimpi Akan Shooting di Bangka

imagesSetelah sukses dengan film Laskar Pelangi, sutradara Riri Riza akan kembali menggarap film karya novel Andrea Hirata lainnya, yakni Sang Pemimpi. Riri dan Mira Lesmana saat ini mengaku tengah mempersiapkan naskah untuk film tersebut. “Saat ini kita sudah mulai membuat naskah film kita yang berikutnya. Kebetulan masih dari novel yang dikarang oleh Mas Andrea Hirata yaitu Sang Pemimpi. Mengenai waktunya kapan? Saya

pikir kita masih harus garap dulu naskahnya. Kalau sudah rampung, baru kita produksi,” ujarnya kepada wartawan yang menemuinya di ruang VIP Bandara Depati Amir, Pangkalpinang, Rabu kemarin. Riri memprediksikan film Sang Pemimpi kemungkinan akan mulai diproduksi pada tahun 2009 nanti. Seperti halnya film Laskar Pelangi, Riri mengatakan bahwa pihaknya akan kembali melibatkan wajah-wajah lokal dalam filmnya tersebut. “Saya melihat Babel (Bangka Belitung) salah satu gudang pemain-pemain film yang potensial. Baca entri selengkapnya »

PHA KAK LIANG

pakak-liang21Kali ini saya akan mengajak anda untuk berwisata alam ke Pha Kak Liang. Pha Kak Liang adalah sebuah kawasan yang bergaya china, yang dibangun di daerah bekas tambang timah, yang luasnya mencapai 2 ha. Tempat ini berada di Desa Kuto Panji, Kecamatan Belinyu Kabupaten Bangka, sekitar 2 km dari Kota Belinyu atau 53 km dari Kota Sungailiat. Wisatawan yang datang kesini seolah berada di kawasan dartan Hongkong atau Taiwan. Tidak heran, karena masyarakat Babel juga terdiri dari etnis Tionghoa. Daya tarik bagi wisatawan di sini yang tak kalah menariknya adalah pengunjung dapat menyaksikan ikan air tawar yang besar-besar bermunculan dipermukaan air pada saat kita berikan makanan yang telah disediakan oleh penjaga setempat. Konon, ikan-ikan tersebut tidak boleh dipancing atau dimakan. Selain karena mythos, yang jelas kalau ikannya boleh dipancing, pha kak liang akan berubah menjadi kolam pemancingan ikan.  Sumber AMCA

Pesona Pantai Tanjung Pesona

tjg-pesona1Tanjung Pesona adalah nama pantai yang  terletak sekitar 9 km dari kota Sungailiat, ibu kota kabupaten Bangka . Tepatnya Pantai Tanjung Pesona terletak diantara Pantai Teluk Uber dan Pantai Tikus. Seperti namanya, pantai ini memang sungguh mempesona. Berdiri diatas butiran pasir putih yang lembut, dengan panorama laut lepas dimana ombak saling berkejaran, dan panorama bebatuan yang besar, sembari ditiup angin semilir akan membuat kita merasa betapa kecilnya kita sebagai manusia disekeliling alam ciptaan Allah SWT. Sungguh kita tidak berarti apa-apa.

Di Tanjung Pesona juga tersedia restoran, mushola dan beberapa fasilitas lainnya. Hanya saja bagi pengunjung yang menyukai acara bakar ikan dipantai ala camping, Tanjung Pesona bukan tempatnya. Disini, pengunjung tidak boleh melakukan kegiatan tersebut. Karena dikhawatirkan akan mengotori kawasan wisata. Namun hal itu bukanlah suatu kendala, karena kita bisa membeli makanan disana atau membawa bekal dari rumah. Yang jelas tujuan kita ke pantai mau wisata, rekreasi dan melihat keindahan alamnya yang memesonakan ?. Bukan sekadar datang untuk makan.

Pulau Bangka Menangis-i Laskar Pelangi

Sebagai warga Babel, saya bangga dengan prestasi yang diraih oleh warga Serumpun Sebalai dalam kurun waktu yang tidak berjauhan lagi. Andrea Hirata dengan Laskar Pelangi-nya dan Rudi Harlan/ Nursobah dengan Pulau Bangka Menangis-nya mencetak prestasi yang membanggakan di Eagle Award 2008. Meskipun berbeda, tapi kedua karya anak Babel tersebut mempunyai benang merah yang saling berhubungan. TIMAH . Andrea berkisah tentang rusaknya Belitong karena PN.Timah. Rudi & Nursobah memperjelas kerusakan yang diakibatkan timah pada tanah /negeri Laskar Pelangi ini. Baca entri selengkapnya »