Mancung64’s Weblog

Membawa Cerita, “Cinta,” Budaya dan Mestika dari Bumi Persada

Pulau Bangka Menangis-i Laskar Pelangi

Sebagai warga Babel, saya bangga dengan prestasi yang diraih oleh warga Serumpun Sebalai dalam kurun waktu yang tidak berjauhan lagi. Andrea Hirata dengan Laskar Pelangi-nya dan Rudi Harlan/ Nursobah dengan Pulau Bangka Menangis-nya mencetak prestasi yang membanggakan di Eagle Award 2008. Meskipun berbeda, tapi kedua karya anak Babel tersebut mempunyai benang merah yang saling berhubungan. TIMAH . Andrea berkisah tentang rusaknya Belitong karena PN.Timah. Rudi & Nursobah memperjelas kerusakan yang diakibatkan timah pada tanah /negeri Laskar Pelangi ini. Meskipun Andrea di Belitung, Rudi/Nursobah di Bangka , tapi kerusakan itu ada dikedua pulau ini.Timah yang yang membuat harum Bangka Belitung, karena dikenal ngetop dengan sebutan Pulau Timah, mendatangkan uang yang tidak terkira bagi kas Negara dan Propinsi Sumsel (waktu itu), tapi tengoklah hasil dari timah tersebut bagi warga Babel. Apa yang tersisa ? Selama masa kejayaan timah, yang berada dijajaran atas TTB, PELTIM, KOBATIN (nama perusahaan sebelum berganti menjadi PT Timah tbk sekarang, mayoritas kalau tidak boleh dikatakan seluruhnya adalah orang-orang pendatang dari luar Babel, yang dengan segera angkat kaki begitu selesai apa yang dicari. Sehingga ada pepatah tidak resmi yang tercetus diantara para pendatang waktu itu, “Kalau datang Ke Bangka bawa 1 koper, pulangnya minimal 4 koper”. TIMAH yang membuat TOP, tapi Timah jua lah pangkal kerusakan Bumi Serumpun Sebalai. Mau mengangkat timah dan membuangnya dari tanah tanah Babel jelas tidak mungkin, karena itu adalah pemberian Tuhan yang wajib kita syukuri. Menangislah pulau Bangka-Belitung, tangisilah pulau-pulaumu yang semakin tua dan keropos ini, tangisilah olehmu keterbelakangan kita warga Babel yang tidak bisa turut menyaksikan euphoria film Laskar Pelangi karena kita tidak punya bioskop. Apakah kita harus ke Jakarta dulu ? Sedih sekali nasib wargamu  !! Rudi dan Nur lebih beruntung, karena warga Babel bisa menyaksikan filmmu di Metro TV. Tapi akhirnya yang dilihat di Metro juga  tentang kerusakan yang sudah jadi pemandangan tiap hari di Babel. Semoga tidak ada warga yang beralih profesi  menggempur batu-batu besar di pantai-pantai untuk dikomersilkan sebagai bahan bangunan bila timah sudah habis.

2 Komentar»

  kellyamareta wrote @

jadi lebih terasa kalo kita hidup di indonesia😦

  dina manafe wrote @

bukan hanya orang luar,masyarakat setempat juga jor-joran menambak. dengar dari pengakuan penduduk, banyak yang beralih dari petani lada (setelah harganya anjlok) menjadi penambak timah,bahkan hingga saat ini. Hal ini diperlukan ketegasan dari pihak yang berkompeten, terutama pengambil kebijakan atau regulator.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: