Mancung64’s Weblog

Membawa Cerita, “Cinta,” Budaya dan Mestika dari Bumi Persada

7 Likur

Mendekati bulan ramadhan, ada suatu hal yang selalu membuat saya ingin segera pulang kekampung halaman. Selain suasana yang khas ada satu tradisi yang jarang saya jumpai ditempat lain.Yaitu tradisi malam7 Likur.
Uniknya tradisi ini ternyata juga ada dinegara tetangga kita, Malaysia. Menariknya lagi, tradisi ini juga mempunyai nama yang sama, yaitu 7 likur. Entah mana yang orisinal, saya juga tidak tahu,karena nama dan kegiatannya yang sama-sama berada dibulan ramadhan pada saat mendekati lebaran. Namun tidak ada salahnya bagi kita untuk menjaga segala bentuk kebudayaan yang kita miliki sebagai khasanah kekayaan budaya bangsa.

Likur;dalam kamus praktis bahasa Indonesia modern diartikan sebagai suatu kata untuk menyatakan bilangan antara 20 dan 30.
Mengenai asal kata yang mirip bahasa Jawa ini,menurut analisa saya, mungkin bahasa Jawa menyerap kata ini, untuk dijadikan bahasa Jawa, karena besar kemungkinan kata ini berasal dari bahasa Melayu, sebagai akar bahasa Indonesia. Buktinya di negara Jiran, mereka juga menggunakan kata yang sama dan ini khusus dipakai pada malam 21 sampai 29 ramadhan, seperti di Mancung (Bangka).

Adapun 7 likur yang selalu saya tunggu-tunggu itu, bermula dari malam kedua puluh satu ramadhan yang disebut, selikur. Mulai malam ini masyarakat menghiasi halaman rumah dengan aneka lampu. Dulu, jaman saya kecil, lampu likur sangat sederhana, bambu sepanjang + 1 – 1,5 m dilobangi ruas-ruasnya 6 – 8 lubang dan diberi sumbu kedua ujungnya di ikat pada kayu yang dijadikan tonggak Di isi minyak tanah, disulut, byaarr menyalalah sang lampu. Selain bambu ada tumpukan batok kelapa kering yang dilobangi tengahnya ditusuk dengan kayu, diberdirikan dalam posisi telentang, dibakar dari atas, semakin tinggi tumpukan semakin awet sang lampu likur. Dan ada juga pelepah sagu (rumbia) yang dipotong , kedua ujungnya ditancapkan kekayu yang menjadi tonggak, 1 m diatas tanah, diatasnya disusun berderet kulit lokan/kerang yang diisi dengan kekeret, yaitu sisa-sisa getah karet yang habis disadap,mengering dan menempel mengelilingi batang pohon karet. Inilah yang dipakai sebagai lampu likur kulit lokan.

Klimaks dari ini semua adalah malam kedua puluh tujuh ramadhan atau malam 7 likur, jika malam-malam sebelumnya ada rumah yang belum memasang lampu likur, malam ini semua penduduk tidak ada yang ketinggalan, berlomba-lomba memperindah lampu likur mereka. Lampu bambu yang semula pendek, dibuat panjang melintang diatas jalan, ini biasanya kerja sama antara masyarakat. Itu dulu, era awal 80an.
(bersambung)

2 Komentar»

  Lee.Noh wrote @

Saya faham dari komen-komen yang diberi mengenai malam 7 likur ini nampaknya rekaan masyarakat kita sahaja, tidak pernah saya jumpa dalam Buku Fikah, mungkin saya kurang membaca kot tapi pasal Ramadan saya baca juga, walau pun tidak mendalam.Tak jumpa pun.
Didapati pengisian mlm tersebut lebih kepada memasang pelita sehingga terlupa suruhan membaca al.Quran dan solat sunat dan ada yang membuat pertandingan pula, kalau begitu sebok macam mana nak buat yang disebut tadi.
saya tidak berani komen panjang sebab saya tidak tahu sebenarnya apakah malam 7 likur itu. wallahu aklam.

  Pesona Malam Tujuh Likur « Mancung64’s Weblog wrote @

[…] tahun 2008 yang lalu. Dalam postingan saya beberapa waktu yang lalu saya pernah menuliskan tentang malam 7 likur dan malam 7 likur (part 2). Saat ini pada tanggal 21 ramadhan tradisi malam likuran sudah […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: