Mancung64’s Weblog

Membawa Cerita, “Cinta,” Budaya dan Mestika dari Bumi Persada

Arsip untuk Mei, 2008

Mancung

Prolog

Episode ini berisi rangkaian kenangan /history saya, yang akan membawa anda untuk mengenal Mancung.  Mancung adalah salah satu desa kecil yang terletak di kec.Kelapa, Kab. Bangka Barat, Propinsi Bangka Belitung. Mungkin ini adalah yang pertamakalinya bagi anda mendengar nama ini. Tapi pastinya anda sudah mengenal propinsi kepulauan Bangka Belitung, sebagai penghasil timah terbesar di Indonesia. Selain itu propinsi Babel juga mempunyai banyak potensi SDM yang berkualitas, baik dari jajaran negarawan, intelektual maupun seniman.  Mancung, sebagai salah satu bagian dari Babel juga menyimpan banyak potensi yang belum terpublikasi  secara luas. Melalui Blog ini saya ingin mengajak anda untuk jalan-jalan menikmati keindahan wisata Pulau Bangka dan melihat dari dekat budaya dan tradisi Bangka serta mencium aroma semerbak dari bau khas lada putih dan seni kuliner Bangka (tentunya dengan indra penciuman yang mancung ). Semoga melalui Blog ini saya bisa membantu memuaskan keingin tahuan anda untuk mengenal lebih jauh potensi dan budaya Pulau Bangka, khususnya Mancung.

Iklan

Kebangkitan Nasional ? koq Gitu !

Masih dalam aura semangat merayakan HARKITNAS, tgl 20 Mei kemaren saya ikut Seminar yang berskala nasional dengan jumlah peserta yang melebihi kuota yang ditetapkan panitia,hingga mengurangi kenyamanan peserta .Temanya, Kebangkitan Sumsel Melalui Peningkatan Mutu SDM.Disini saya tidak membahas isi makalah nara sumber,tapi ada 2 peristiwa yang membuat saya gundah.Sebagai WNI tulen saya yakin kita semua hafal dan fasih menyanyikan lagu Indonesia Raya (terlepas dari kidmat atau tidaknya). Sebelum acara dimulai, peserta diminta berdiri untuk menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, dipimpin oleh salah satu panitia dengan penampilan modis dan gaul abis (istilah abg),mengambil suara “….Kita bela bersamaa….”.Awalnya saya pikir telinga saya yang eror,meskipun berada pada barisan kelima dari depan,suasana berisik dari ribuan peserta buat pendengaran tidak jelas. Tapi karena yang pertama kurang keras,panitia mendekatkan standing microphon pada sang dirigent,dan ternyata, masih suara dan nada lagu Satu Nusa Satu Bangsa yang terdengar lebih keras dan jelas terdengar oleh semua peserta. Bisa ditebak kelanjutannya,suara haa huu dimana-mana.Meskipun lagu dilanjutkan tapi jauh dari khidmat,peserta nampaknya lebih tertarik untuk mendiskusikan ‘kerikil’ ini daripada bernyanyi. Saya tercenung, panitia acara ini adalah mahasiswa/i dari PTN yang cukup terkenal,apakah kesalahan itu hanya semacam human eror biasa, karena demam panggung? Atau memang kurangnya pengetahuan tentang lagu- lagu wajib/nasional tersingkirkan oleh lagu Ungu,Letto dll? Jadi ingat alm.Sophan Sopian dlm wawancara terakhirnya di RCTI,….”dalam perjalanan kami, kami dihibur penyanyi didaerah yang disinggahi, mereka menyanyikan lagu kucing garong dengan hebat,tapi begitu diajak nyanyikan lagu Bendera Merah Putih tidak hafal”. Kok gitu ya? Semoga dengan kejadian ini, si mbak yang jadi dirigent bangkit berbenah diri,dan kita juga dong. (bersambung).

Kebangkitan Nasional (Part 2)

Melanjutkan postingan tentang Kebangkitan Nasional kemaren. Satu hal lagi yang buat saya merasa gundah. Kalo kemaren saya menulis tentang wakil generasi muda (sang dirigent) yang juga panitia, hari ini saya mau menulis tentang peserta yang mewakili genre ‘agak tua’. Saya coba untuk berada pada posisi kaum wanita, kaum saya. Ada satu penampilan peserta yang membuat saya jadi bertanya-tanya. Apa karena semangat nasionalisme yang tinggi untuk ikut merayakan Harkitnas, apa karena Sertifikat Seminar, apa karena memang mencari ilmu, yang menjadi motivasinya (semoga yang terakhir ini). Seorang Bapak muda dengan suka rela menggendong bayinya yang baru berumur + 6 bulan dengan menggunakan kain gendongan, layaknya seorang ibu,berdiri berayun-ayun menina bobokan sang anak yang merasa gerah berada digedung seminar yang dipadati ribuan pengunjung.Memang wujud kasih sayang orang tua pada buah hatinya tak kan pernah bisa diukur. Tapi sebagai wanita, entah mengapa saya merasa janggal melihat pemandangan ini. Boleh saja dengan dalih emansipasi wanita atau kesetaraan gender tidak ada batasan karier antara pria dan wanita. Menurut saya, tempat ilmiah bukan tempatnya bagi seorang laki-laki untuk memposisikan diri sebagai pengganti ibu, yang menggendong bayi dengan kain gendongan. Menurut saya nih, wibawanya langsung turun drastis. Sedangkan sang ibu, yang juga berada disana duduk dengan manisnya, memangku tas. Dan tidak peduli dengan pandangan peserta lain. Dalam hati saya berjanji, saya tidak akan pernah memperlakukan suami saya seperti itu. Bagaimanapun sebagai seorang imam, suami harus dihormati, seperti apapun kondisinya.