Mancung64’s Weblog
Membawa Cerita, “Cinta,” Budaya dan Mestika dari Bumi PersadaArsip untuk Budaya
Suku Lom (Mapur), Pemegang Kemurnian Tradisi di Tengah Hutan Bangka
“Hati-hati masuk ke daerah suku Lom. Niat hati harus bersih dan tulus. Kalau hati kotor, nanti bisa kena celaka, bisa-bisa malah tidak bisa keluar lagi.” Demikian pesan banyak orang kepada siapa pun yang akan mengunjungi suku Lom.
Suku Lom merupakan suku unik yang tinggal di Dusun Air Abik dan Dusun Pejam, Desa Gunung Muda, Kecamatan Belinyu, Kabupaten Bangka, Kepulauan Bangka Belitung. Mereka juga sering disebut sebagai suku Mapur karena mula-mula sebagian besar tinggal di Dusun Mapur. Suku tersebut dikenal sebagai salah satu komunitas yang masih kuat memegang kemurnian tradisi di tengah perubahan zaman.
Sebenarnya kawasan adat suku Lom hanya berjarak sekitar 13 kilometer dari kota Kecamatan Belinyu. Motor dan mobil masih bisa masuk ke daerah itu saat tidak turun hujan, meski harus menelusuri jalan menuju tanah di tengah hutan Gunung Muda dan Gunung Pelawan yang rusak dan berlubang-lubang.
Kemurnian tradisi suku Lom selama ini dibumbui berbagai mitos, misteri, atau legenda yang menakutkan sehingga sebagian masyarakat enggan menyinggahi kawasan itu.
Memasuki perkampungan suku Lom di Dusun Air Abik, tak ubahnya melihat perkampungan warga biasa di daerah lain. Rumah-rumah kampung berjajar rapi di kiri-kanan jalan. Sebagian bangunan rumah sudah permanen, semipermanen, dan sebagian lagi masih berupa rumah kayu sederhana dengan atap genting. Bahkan beberapa rumah dilengkapi parabola. Ada juga beberapa mobil dan sepeda motor.
Keunikan suku itu mulai terasa ketika mereka ditanya tentang agama. Kolom agama kartu tanda penduduk (KTP) pada sebagian suku itu dibiarkan kosong, sebagian ditulis ’agama Islam’ sekadar untuk formalitas.
“Saya tidak punya agama. Tetapi, saya menghargai orang lain yang beragama. Yang penting saya hidup baik-baik, bisa makan dan minum setiap hari, serta tidak menyakiti orang lain,” ucap Sli (42), warga suku Lom yang tinggal sendirian di daerah agak pedalaman.
Sebutan lom pada suku tersebut merujuk komunitas yang “belum” memeluk suatu agama.(Red-dalam bhs Bangka, lom artinya belum) Menurut sejumlah warga, sebutan itu mulai muncul sejak zaman kolonial Belanda yang berusaha mengidentifikasi penduduk berdasarkan agama yang dianut. Hingga sekarang, anggota suku yang masih memeluk adat disebut “Lom”, sedangkan yang telah memeluk agama formal tertentu berarti telah menjadi “bukan Lom”.
Kepala Dusun Air Abik, Tagtui, menjelaskan, dari 139 keluarga yang tercatat, sebanyak 62 orang tertulis beragama Islam, 13 Kristen, dan dua orang Buddha. Sebanyak 62 orang lagi memeluk kepercayaan adat atau masih murni “Lom”. Namun, sebagian besar warga yang secara formal telah memeluk agama juga masih memercayai adat yang dipatuhi sejak nenek moyang.
“Sejak kecil saya tidak punya agama. Saya masuk Islam ketika menikah dengan istri yang Muslim tahun 1997. Tetapi, saya masih memercayai hukum-hukum adat sampai sekarang,” papar Tagtui.
Menurut penuturan tetua adat setempat, Mang Sikat (62), adat suku Lom dibangun dari keyakinan bahwa mereka dilahirkan dari alam semesta. Gunung, hutan, sungai, bumi, langit, dan hewan merupakan bagian dari alam semesta yang menyatu dengan nenek moyang sehingga harus dihargai. Dalam setiap perwujudan alam terdapat roh atau kekuatan yang selalu menjaga dan mengawasi manusia. Kutukan akan menimpa siapa pun yang melanggar kekuatan alam.
Keyakinan akan kutukan itu diperkuat oleh mantra-mantra yang digunakan untuk setiap tindakan yang dimuati tujuan khusus. Ada mantra untuk jirat, yaitu semacam doa untuk menjaga ladang dari pencurian. Ada mantra untuk menghipnotis orang agar mengakui kejahatan yang dilakukan. Juga ada semacam gendam untuk menarik minat lawan jenis sehingga jatuh cinta atau untuk menjaga kelanggengan pernikahan.
Berbagai mantra itu terutama dikuasai para dukun adat demi menjaga keamanan dari serangan luar, melestarikan tatanan sosial, sekaligus menempa kepercayaan diri setiap anggota suku. Meski digunakan dengan hati-hati untuk keperluan khusus, keampuhan mantra suku Lom acap jadi gunjingan khalayak luas sehingga masyarakat cenderung berhati-hati terhadap kekuatan magis suku itu.
Keyakinan itu melahirkan adat unik yang sebagian masih ditaati suku Lom hingga kini. Mayat anggota suku yang meninggal, misalnya, tidak boleh diantar ke kubur melalui pintu depan karena dia pergi untuk selamanya dan tidak kembali lagi. Mayat dibawa lewat pintu belakang, atau bila perlu menjebol dinding samping.
Adat lain, wanita hamil dilarang duduk di tangga rumah karena tangga menjadi perlintasan roh-roh. Roh-roh itu bisa masuk dalam kandungan sehingga menghambat proses kelahiran. Bersiul di ladang juga dihindari karena akan mengusir roh kehidupan yang memasuki tanaman yang baru tumbuh, akibatnya bisa gagal panen.
Keterasingan menciptakan bahasa Lom yang unik. Kata- kata diucapkan dalam percakapan yang cepat dan penuh intonasi. Suku Lom menyebut ika untuk mereka, nampik untuk dekat, nen berarti ini, bu untuk nasi, dan maken air berarti minum. Bahasa itu berbeda dengan bahasa Melayu atau China yang terdapat di lingkungan di sekitar suku Lom.
Hingg saat ini, suku Lom masih berusaha menjaga keyakinan adat. Para orang tua umumnya membebaskan anak untuk bersekolah, tetapi anak- anak biasanya tidak pernah menamatkan sekolah dasar. SD Negeri 24 di Dusun Air Abik yang berada di pinggir dusun hanya diikuti 48 siswa. Itu pun sebagian berasal dari lingkungan di luar suku.
Menurut Kepala Sekolah SDN 24 Dusun Air Abik, M Bundiar, jumlah anak yang masuk sekolah bisa mencapai puluhan siswa. Tetapi, anak-anak suku Lom rata-rata berhenti sekolah saat menginjak kelas II, III, atau IV.
“Kesadaran terhadap pendidikan pada suku Lom masih sangat rendah. Banyak yang tidak sekolah. Kalau sudah masuk, ada saja anak yang putus sekolah setiap bulannya. Kadang ada yang minta izin bekerja membantu orangtua di hutan dan tidak pernah masuk lagi, atau tiba-tiba hilang begitu saja,” tuturnya.
Beberapa warga suku Lom menganggap pendidikan hanya akan mengajarkan tabiat dunia luar yang dipenuhi kebohongan dan nafsu mengejar materi. Yudi (32), salah satu warga, mengaku tidak pernah sekolah sehingga tidak bisa membaca dan menulis. “Saya selalu ke ladang untuk memelihara 100 batang lada putih, buah-buahan, dan tanaman lain. Saya hanya butuh hidup dengan bahagia bersama warga di sini,” ujarnya.
Suku Lom cenderung menghindari budaya asing yang bertentangan dengan tradisi. Puluhan tahun lalu adat masih melarang anggota suku untuk menggunakan sandal, jas, jaket, atau payung karena dianggap menyamai gaya dan perilaku para penjajah. Sekarang ikatan itu mulai mengendur seiring dengan perkembangan zaman, tetapi sikap kritis terhadap dunia luar masih tetap dipelihara. Dalam sejarahnya, belum pernah ada anggota suku yang tersangkut atau dipenjara karena melakukan tindakan kriminal. Suku Lom yang asli sering diibaratkan sebagai bayi yang baru lahir; masih murni dan polos.
Sumber: AMCA
Mari Nikmati Wisata Pantai di Kepulauan Bangka Belitung




Berkunjung ke Kepulauan Bangka Belitung, sama dengan memanjakan diri dengan wisata bahari. Bukan saja para pelancong dapat menikmati hamparan laut yang membiru, tetapi juga mengecap nikmatnya aneka hidangan laut yang tersedia di hampir setiap sisi kota ataupun pantai.
Kepulauan Bangka Belitung adalah wilayah provinsi baru pecahan Sumatra Selatan. Kini, masyarakat Bangka Belitung menamai negeri mereka ini dengan kata yang cukup populer, Negeri Serumpun Sebalai. Ketenaran buku dan film Laskar Pelangi juga mempunyai andil yang besar dalam mempromosikan Babel. Sehingga Babel juga punya nama baru Bumi Laskar Pelangi.
Kota Pangkal Pinang sebagai ibu kota Babel, disahkan pada 9 Februari 2002. Baca entri selengkapnya »
Tindihan, Apakah penyebabnya ?
Pernahkah anda mengalami suatu peristiwa,dimana anda merasa tidak bisa melakukan apapun, meski hanya sekedar menjerit. Seluruh anggota tubuh tidak ada yang bisa digerakkan, terasa berat ibarat diganduli puluhan ton batu, meskipun anda sudah berusaha sekuat tenaga untuk menggerakkan tangan maupun kaki anda.Tetapi hasilnya nihil.Biasanya dalam kondisi seperti itu kita sering melihat bayangan atau sosok hitam,besar disamping atau didepan kita, sehingga timbul perasaan takut. Dan ketika tersadar biasanya badan terasa lemas. Inilah kondisi yang biasa kita kenal dengan nama tindihan, yang terjadi pada saat kita setengah sadar dari tidur. Sehingga rasanya seperti kenyataan saja. Ternyata, tindihan bisa juga disebabkan karena kita kurang tidur atau pola tidur yang tidak teratur.
Apa itu Tindihan ? Baca entri selengkapnya »
Batik Diusulkan Jadi Warisan Budaya Dunia
BOROBUDUR — Usulan Indonesia kepada Badan PBB untuk Kebudayaan (Unesco) agar batik menjadi warisan budaya dunia sebagai wujud dari upaya pemerintah mendorong pelestarian terhadap salah satu peninggalan nenek moyang Bangsa Indonesia.
“Untuk melindungi budaya, batik Indonesia kita usulkan kepada Unesco sebagai warisan dunia,” kata Kepala Balai Konservasi Peninggalan Borobudur, Marsis Sutopo, kepada ANTARA sebelum menjadi pembicara dalam pertemuan Bakohumas (Badan Koordinasi Kehumasan) Kabupaten Magelang tentang Sosialisasi Batik sebagai Warisan Dunia, di Borobudur.
Ia mengatakan, usulan melalui Departemen Kebudayaan dan Pariwisata itu hingga saat sekarang masih dalam tahap penyusunan naskah akademis tentang batik Indonesia. Baca entri selengkapnya »
7 Tips Aksesoris Ponsel ‘Anti Tilang’
Manusia modern dewasa ini tidak bisa terlepas dari benda yang yang bernama ponsel . Kemanapun kita pergi, ponsel selalu menyertai kita. Sehingga ponsel dan dompet menjadi benda wajib yang tidak terpisahkan dari kita. Namun dibalik itu semua, ponsel juga bisa menjadi alat pembunuh bagi para pengendara yang menyetir sambil berbicara via ponsel. Saat ini, kepolisian sedang mempertimbangkan aturan tilang bagi pengemudi berponsel. Untuk itu ada baiknya pengguna ponsel mulai beralih ke handsfree (menelepon tanpa menggunakan tangan). Apa saja pilihan aksesoris ponsel untuk handsfree?
Berikut ini tips memilih aksesoris ponsel untuk berbicara tanpa memegang ponsel seperti dikutip detikINET dari ABC, Baca entri selengkapnya »
Terapi Unik dan Tradisional atasi Ketulang
Anda penggemar hidangan seafoods? Tentu ikan bukan suatu hal yang asing bagi anda. Anda tentu sudah pernah mencicipi beraneka ragam masakan ikan. Mulai dari ikan panggang, ikan goreng, ikan bakar, ikan pepes dan lain-lain, yang menggugah selera dan berprotein tinggi tentu saja.
Namun, dibalik kelezatan ikan, kalau tidak hati-hati, bisa saja tulang ikan yang kita makan ikut tertelan, dan parahnya lagi apabila sampai tersangkut di tenggorokan.( “ketulang” istilah orang Bangka, untuk menyebut kasus “tertelan” tulang ikan). Hal ini menyebabkan tenggorokan kita terasa sangat sakit bila tulang ikan tersebut masih betah nyangkut di tenggorokan.
Di Bangka, ada cara unik dan tidak masuk dinalar tentang cara mengobati ketulang ini. Jadi sipasien tidak perlu di bawa ke rumah sakit. Cukup dengan minum air putih, ternyata sakit tersebut dapat hilang bahkan sembuh dengan cepat. Tidak percaya ? Tanpa jampi,mantera ataupun do’a anda juga bisa melakukannya.
Ada beberapa cara unik penyembuhan ketulang, antara lain :
1. Apabila anda menemukan mata pancing, atau kail yang berada didalam perut ikan, simpan lah barang ini, fungsinya untuk penyembuhan. Caranya dengan merendam mata pancing tersebut dalam segelas air,kemudian airnya diminum.
2. Carilah orang yang terlahir secara sungsang (kaki duluan), mungkin agak susah ya kalau tidak tahu latar belakangnya. Yang penting kalau punya tetangga, teman atau kenalan yang lahir sungsang bisa dimanfaatkan untuk mengobati ketulang. Cukup dengan mencelupkan ujung jari tangannya kedalam segelas air putih, yang kemudian diminumkan pada sipenderita, si sungsang sudah bisa menjadi juru sembuh.
Memang, selain yang ditulis di atas, ada juga orang yang bisa menyembuhkan ketulang dengan bacaan tertentu, asal tahu saja nama ikan yang tulangnya tersangkut di tenggorokan, bisa sembuh. Selain itu ada juga pengobatan dengan cara menelan sekepal nasi putih yang tidak dikunyah terlebih dahulu. Cara-cara ini sangat tradisional sekali. Believe or not ?
Kalau kasus ini menimpa anda silakan dicoba mana yang lebih cocok. Tapi saran saya sebaiknya hati-hati saat makan, biar tidak ketulang. Sumber : dukonbesar.com
Mengapa Banyak Cina di Bangka ?
Pulau Bangka terdiri dari berbagai macam etnis masyarakat. Salah satu etnis yang banyak terdapat di Babel adalah etnis Tionghoa. Anda bisa menjumpai mereka dengan mudah, sama seperti anda mencari rumah makan Padang. Karena itu sedikit banyak terjadi pembauran antara bahasa Bangka dengan bahasa Tionghoa, yang dalam bahasa Bangka disebut dengan orang Cina orang Cen atau orang Cin. Menurut catatan Belanda, perpindahan orang Cina ini berlangsung sejak awal abad ke-18 atau sekitar tahun 1710 Masehi.
Komunitas Tionghoa terbesar di Babel berasal dari suku Ke Jia (sering disebut orang Khe) dari propinsi Guang Dong, Tiongkok. Mereka berangkat dari kampong-kampung didistrik tertentu seperti, Sin Neng, San Wui, Hoi P’eng, dll. Menariknya, perpindahan mereka dari Tionghoa ke Bangka, melakukan migrasi sistem bedol desa. Sebagian besar berasal dari satu kampung halaman. Tak ubahnya para urban di Jakarta , saat mereka pulang kampung ke Tiongkok sendirian, pulang ke Bangka mereka mengajak kawan dan sanak saudaranya ikut serta. Dan itu berlangsung terus hingga abad ke-20.
Arus pertama migrasi bedol desa tersebut, tidak disertai kaum wanita, sehingga terjadilah perkawinan campuran antara buruh migran dengan wanita setempat ataupun perempuan Jawa dan Bali.
Apa tujuan Mereka ke Bangka ? Baca entri selengkapnya »
Benarkah Menikah Berpengaruh Buruk Bagi Kesehatan ?
Selama ini, orang beranggapan bahwa sebuah pernikahan dapat membuat kehidupan seseorang menjadi lebih baik, Ternyata anggapan tersebut belum tentu benar. Karena ada kalanya sebuah pernikahan justru berdampak buruk bagi kesehatan seseorang.
Sebuah penelitian dilakukan oleh Julianne Holt-Lunstad, peneliti dari Brigham Young University, Amerika Serikat. Penelitian itu dilakukan terhadap 204 orang-orang yang telah menikah dan 99 orang lajang. Mereka semua diperiksa tekanan darahnya selama 24 jam. Selain itu beberapa pertanyaan mengenai kehidupan rumah tangga mereka pun ditanyakan.
Hasil dari penelitian itu cukup mengejutkan. Ternyata kehidupan pernikahan berpengaruh terhadap kesehatan khususnya tekanan darah. Baca entri selengkapnya »
Saat lebaran tiba, salah satu suasana yang menyenangkan dikala kita masih kecil adalah tradisi salam tempel. Keliling tanpa lelah dari rumah-kerumah untuk bersilaturahmi dengan sanak keluarga dan tentu juga dengan harapan akan mendapatkan uang jajan tambahan yang diperoleh dari salam tempel tersebut.
Apabila anda memperhatikan gambar disebelah saya yakin anda tidak akan menyangka kalau titik- titik kuning diphoto ini, adalah titik- titik api yang terbuat dari lampu sentir tradisional yang terbuat dari botol bekas minuman energi, sumbu kompor dan minyak tanah. Setiap satu titik api berasal dari satu botol. Jadi anda tentu bisa membayangkan berapa banyak botol yang diperlukan untuk setiap satu gapura api ini.
